Portal sekolah
Pembelajaran Fathu Makkah dan Haji Wada - PAI Fase C
PAI Fase C - Kelas 5 & 6 SD

Peristiwa Fathu Makkah dan Haji Wada

Serta Hikmah yang Dapat Kita Pelajari

30 menit baca 25 soal kuis

Materi Pembelajaran

Baca dengan teliti sebelum mengerjakan kuis

1 Pendahuluan

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh, adik-adik siswa yang budiman! Pada materi kali ini, kita akan belajar tentang dua peristiwa penting dalam sejarah Islam, yaitu Fathu Makkah (Pembebasan Kota Makkah) dan Haji Wada (Haji Perpisahan). Kedua peristiwa ini terjadi pada masa hidup Nabi Muhammad SAW dan memiliki banyak pelajaran berharga yang bisa kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Bayangkan kalian punya rumah yang sangat kalian sayangi, lalu suatu hari kalian harus pergi jauh meninggalkan rumah itu karena ada orang-orang jahat yang mengusir kalian. Setelah bertahun-tahun, akhirnya kalian bisa kembali ke rumah itu dengan damai tanpa harus berkelahi. Itulah gambaran sederhana dari peristiwa Fathu Makkah yang akan kita pelajari.

2 Peristiwa Fathu Makkah (Pembebasan Kota Makkah)

Fathu Makkah yang berarti "Pembebasan Kota Makkah" adalah peristiwa bersejarah yang terjadi pada tanggal 20 Ramadhan 8 Hijriah, bertepatan dengan 11 Januari 630 Masehi. Peristiwa ini merupakan puncak kemenangan umat Islam dalam menyebarkan ajaran agama Allah SWT.

Menurut Ibnu Hisyam dalam kitab "Sirah Nabawiyah", Fathu Makkah adalah salah satu peristiwa paling agung dalam sejarah Islam karena berhasil membebaskan Ka'bah dari berhala-berhala tanpa pertumpahan darah yang berarti.

Latar Belakang Fathu Makkah

Sebelum memahami peristiwa Fathu Makkah, kita perlu tahu apa yang terjadi sebelumnya. Pada tahun 6 Hijriah, Nabi Muhammad SAW dan kaum Quraisy Makkah membuat perjanjian damai yang disebut Perjanjian Hudaibiyah. Dalam perjanjian ini, kedua belah pihak sepakat untuk tidak saling menyerang selama 10 tahun.

Namun, perjanjian ini dilanggar oleh pihak Quraisy. Mereka menyerang Bani Khuza'ah yang merupakan sekutu kaum muslimin. Serangan ini menyebabkan banyak korban jiwa dari Bani Khuza'ah. Karena pelanggaran ini, perjanjian Hudaibiyah dianggap batal dan Nabi Muhammad SAW memutuskan untuk membebaskan Kota Makkah.

Persiapan Menuju Makkah

Nabi Muhammad SAW mempersiapkan pasukan sebanyak 10.000 orang untuk berangkat menuju Makkah. Pasukan ini berangkat dari Madinah dengan penuh keyakinan dan semangat. Yang luar biasa adalah Nabi SAW merahasiakan tujuan perjalanan ini agar kaum Quraisy tidak sempat mempersiapkan perlawanan.

Perjalanan ini seperti ketika kita pergi piknik bersama keluarga besar. Semua sudah siap, bekal sudah lengkap, dan semuanya berjalan dengan tertib dan teratur. Bedanya, perjalanan ini bertujuan untuk membebaskan tanah suci dari kesyirikan.

Pembebasan Makkah Tanpa Pertumpahan Darah

Ketika pasukan muslim tiba di dekat Makkah, para pemimpin Quraisy menyadari bahwa mereka tidak mungkin melawan pasukan sebesar itu. Abu Sufyan, salah satu pemimpin Quraisy, datang menemui Nabi Muhammad SAW dan menyatakan keislamannya.

Nabi Muhammad SAW kemudian mengumumkan bahwa siapa saja yang masuk ke rumah Abu Sufyan akan aman, siapa yang masuk ke Masjidil Haram akan aman, dan siapa yang menutup pintu rumahnya akan aman. Pengumuman ini menunjukkan betapa penyayang dan bijaksananya Nabi Muhammad SAW.

Pasukan muslim memasuki Kota Makkah dengan damai. Tidak ada peperangan besar, tidak ada penjarahan, dan tidak ada balas dendam. Padahal, selama bertahun-tahun kaum Quraisy telah menyiksa dan mengusir umat Islam dari Makkah.

Pembersihan Ka'bah dari Berhala

Setelah memasuki Makkah, Nabi Muhammad SAW langsung menuju Ka'bah. Di dalam dan sekitar Ka'bah terdapat sekitar 360 berhala yang disembah oleh kaum Quraisy. Nabi Muhammad SAW kemudian menghancurkan semua berhala tersebut sambil membaca ayat Al-Qur'an:

جَاءَ الْحَقُّ وَزَهَقَ الْبَاطِلُ إِنَّ الْبَاطِلَ كَانَ زَهُوقًا

"Telah datang kebenaran dan lenyaplah kebatilan. Sesungguhnya kebatilan itu pasti lenyap." (QS. Al-Isra: 81)

Sikap Pemaaf Nabi Muhammad SAW

Yang paling mengagumkan dari peristiwa ini adalah sikap Nabi Muhammad SAW terhadap penduduk Makkah. Beliau bertanya kepada mereka, "Wahai penduduk Quraisy, menurutmu apa yang akan aku lakukan terhadap kalian?" Mereka menjawab, "Engkau adalah saudara yang mulia dan anak saudara yang mulia."

Nabi Muhammad SAW kemudian berkata, "Pergilah kalian, kalian bebas!" (Idzhabuu fa antum at-tulaqaa'). Beliau memaafkan semua orang yang pernah menyakiti dan mengusir umat Islam. Sikap ini sangat berbeda dengan kebiasaan bangsa Arab saat itu yang suka membalas dendam.

3 Peristiwa Haji Wada (Haji Perpisahan)

Haji Wada atau "Haji Perpisahan" adalah ibadah haji yang dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW pada tahun 10 Hijriah (632 Masehi). Disebut Haji Wada karena ini adalah haji pertama sekaligus terakhir yang dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW. Tiga bulan setelah haji ini, beliau wafat.

Menurut Imam Muslim dalam kitab "Shahih Muslim", Haji Wada diikuti oleh lebih dari 100.000 umat Islam yang datang dari berbagai penjuru jazirah Arab untuk belajar langsung dari Nabi Muhammad SAW tentang tata cara ibadah haji.

Perjalanan Menuju Makkah

Nabi Muhammad SAW berangkat dari Madinah pada tanggal 25 Dzulqa'dah tahun 10 Hijriah. Beliau ditemani oleh para istri, keluarga, dan ribuan sahabat. Perjalanan ini memakan waktu sekitar 10 hari. Selama perjalanan, Nabi SAW mengajarkan kepada para sahabat tentang tata cara ihram, doa-doa, dan amalan-amalan dalam ibadah haji.

Pelaksanaan Ibadah Haji

Setibanya di Makkah, Nabi Muhammad SAW melakukan thawaf (mengelilingi Ka'bah) sebanyak 7 kali, lalu shalat 2 rakaat di belakang Maqam Ibrahim. Setelah itu, beliau melakukan sa'i (berlari-lari kecil) antara bukit Shafa dan Marwah sebanyak 7 kali.

Pada tanggal 9 Dzulhijjah, Nabi SAW berangkat ke Padang Arafah untuk melakukan wukuf. Wukuf adalah berdiam diri di Padang Arafah dari waktu zhuhur hingga matahari terbenam. Di sinilah Nabi Muhammad SAW menyampaikan khutbah yang sangat terkenal, yaitu Khutbah Wada (Khutbah Perpisahan).

Isi Khutbah Wada

Khutbah Wada berisi pesan-pesan penting yang menjadi pedoman hidup umat Islam hingga akhir zaman. Berikut adalah beberapa isi penting dari khutbah tersebut:

1

Larangan menumpahkan darah dan merampas harta orang lain. Nabi SAW bersabda bahwa darah dan harta setiap muslim itu suci dan tidak boleh diganggu.

2

Larangan riba (bunga/tambahan yang tidak halal). Semua praktik riba dari zaman jahiliyah dihapuskan.

3

Perintah memperlakukan istri dengan baik. Nabi SAW berpesan agar suami memperlakukan istrinya dengan lemah lembut dan penuh kasih sayang.

4

Persamaan derajat manusia. Tidak ada kelebihan orang Arab atas non-Arab, atau kulit putih atas kulit hitam, kecuali karena ketakwaan.

5

Berpegang teguh pada Al-Qur'an dan Sunnah. Nabi SAW meninggalkan dua pegangan yang tidak akan membuat kita sesat selama berpegang padanya.

Turunnya Ayat Penyempurnaan Agama

Pada saat Nabi Muhammad SAW berada di Padang Arafah, turunlah ayat Al-Qur'an yang menandakan sempurnanya agama Islam:

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا

"Pada hari ini telah Aku sempurnakan agamamu untukmu, dan telah Aku cukupkan nikmat-Ku bagimu, dan telah Aku ridhai Islam sebagai agamamu." (QS. Al-Maidah: 3)

4 Hikmah dari Fathu Makkah dan Haji Wada

Hikmah dari Peristiwa Fathu Makkah

1. Sikap Pemaaf adalah Kekuatan

Nabi Muhammad SAW memaafkan semua penduduk Makkah yang pernah menyakitinya. Ini mengajarkan kita bahwa memaafkan bukan berarti lemah, justru memaafkan adalah tanda kekuatan jiwa. Seperti ketika teman berbuat salah kepada kita, lebih baik kita memaafkan daripada menyimpan dendam.

2. Kesabaran Berbuah Kemenangan

Setelah 8 tahun hijrah, akhirnya umat Islam bisa kembali ke Makkah dengan kemenangan. Ini mengajarkan kita untuk selalu sabar dalam menghadapi kesulitan karena pertolongan Allah pasti datang.

3. Pentingnya Persatuan

Pembebasan Makkah berhasil karena umat Islam bersatu. Di sekolah, kita juga harus kompak dengan teman-teman agar bisa mencapai tujuan bersama.

4. Menghindari Kekerasan

Fathu Makkah hampir tanpa pertumpahan darah. Ini mengajarkan bahwa menyelesaikan masalah dengan damai lebih baik daripada dengan kekerasan.

Hikmah dari Peristiwa Haji Wada

1. Persamaan Derajat Manusia

Dalam Islam, semua manusia sama di hadapan Allah. Yang membedakan hanyalah ketakwaan. Jadi, kita tidak boleh sombong atau merendahkan orang lain karena perbedaan suku, warna kulit, atau kekayaan.

2. Menghormati Hak Orang Lain

Nabi SAW berpesan untuk tidak mengambil harta orang lain dan tidak menyakiti orang lain. Di sekolah, kita harus menghormati barang milik teman dan tidak boleh mengambil tanpa izin.

3. Pentingnya Berpegang pada Al-Qur'an dan Hadits

Nabi SAW meninggalkan Al-Qur'an dan Sunnah sebagai pedoman hidup. Kita harus rajin belajar dan mengamalkan ajaran yang ada di dalamnya.

4. Berbuat Baik kepada Sesama

Khutbah Wada mengajarkan kita untuk saling menyayangi, menghormati, dan membantu sesama manusia tanpa membedakan latar belakang mereka.

5. Menyampaikan Ilmu kepada Orang Lain

Nabi SAW berpesan agar yang hadir menyampaikan kepada yang tidak hadir. Ini mengajarkan kita untuk berbagi ilmu dengan teman yang tidak tahu.

5 Penerapan dalam Kehidupan Sehari-hari

Sebagai siswa SD, kita bisa menerapkan hikmah dari kedua peristiwa ini dalam kehidupan sehari-hari:

  • Memaafkan teman yang berbuat salah kepada kita, seperti Nabi SAW memaafkan penduduk Makkah.
  • Tidak sombong kepada teman yang berbeda suku, agama, atau kondisi ekonomi.
  • Menghormati hak orang lain dengan tidak mengambil barang tanpa izin.
  • Rajin belajar agama melalui Al-Qur'an dan hadits.
  • Berbagi ilmu dengan teman yang belum paham pelajaran.
  • Menyelesaikan masalah dengan cara damai, tidak dengan berkelahi.
  • Bersabar dalam menghadapi kesulitan dan yakin pertolongan Allah akan datang.
  • Menyayangi sesama tanpa membeda-bedakan.

6 Kesimpulan

Fathu Makkah dan Haji Wada adalah dua peristiwa penting dalam sejarah Islam yang mengandung banyak hikmah. Dari Fathu Makkah, kita belajar tentang sikap pemaaf, kesabaran, persatuan, dan menghindari kekerasan. Dari Haji Wada, kita belajar tentang persamaan derajat manusia, menghormati hak orang lain, berpegang pada Al-Qur'an dan hadits, serta pentingnya menyampaikan ilmu.

Semua pelajaran ini sangat relevan untuk diterapkan dalam kehidupan kita sehari-hari, baik di rumah, sekolah, maupun lingkungan masyarakat. Dengan mengamalkan hikmah dari kedua peristiwa ini, insya Allah kita akan menjadi muslim yang baik dan dicintai Allah SWT.

Kuis Pemahaman

Jawab 25 soal berikut untuk menguji pemahamanmu

Progres Pengerjaan 0 / 25 soal

Portal Pembelajaran PAI - Fase C

Fathu Makkah dan Haji Wada