Etika Membaca Al-Qur'an
(Adab Tilawah)
Materi Pembelajaran & Kuis Interaktif
Materi Pembelajaran
Al-Qur'an adalah kitab suci umat Islam yang diturunkan oleh Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW melalui perantara Malaikat Jibril. Al-Qur'an merupakan pedoman hidup bagi seluruh umat manusia, khususnya umat Islam. Karena Al-Qur'an adalah kalam Allah (firman Allah), maka kita harus membacanya dengan cara yang baik dan penuh rasa hormat. Cara membaca Al-Qur'an yang baik dan sopan ini disebut dengan adab tilawah atau etika membaca Al-Qur'an.
Kata "adab" artinya sopan santun atau tata krama. Sedangkan "tilawah" artinya membaca. Jadi, adab tilawah berarti tata krama atau sopan santun saat membaca Al-Qur'an. Bayangkan ketika kamu diundang ke rumah Presiden, tentu kamu akan bersikap sangat sopan, berpakaian rapi, dan berbicara dengan baik. Nah, membaca Al-Qur'an itu seperti "berkomunikasi" dengan Allah SWT, maka kita harus bersikap lebih sopan lagi.
Imam An-Nawawi dalam kitabnya At-Tibyan fi Adabi Hamalatil Qur'an menjelaskan bahwa orang yang membaca Al-Qur'an hendaknya memperhatikan adab-adab tertentu agar mendapat keberkahan dan pahala yang sempurna dari Allah SWT. Beliau menekankan bahwa membaca Al-Qur'an bukan sekadar melafalkan huruf-hurufnya, tetapi harus disertai dengan penghayatan, kekhusyukan, dan etika yang baik. (Sumber: Imam An-Nawawi, At-Tibyan fi Adabi Hamalatil Qur'an).
Selain itu, Imam Al-Ghazali dalam kitabnya Ihya Ulumiddin juga menjelaskan bahwa ada adab lahir (yang terlihat) dan adab batin (yang ada di dalam hati) saat membaca Al-Qur'an. Adab lahir misalnya berwudu, menghadap kiblat, dan membaca dengan tartil. Sedangkan adab batin misalnya merenungkan makna ayat dan merasa takut kepada Allah SWT. (Sumber: Imam Al-Ghazali, Ihya Ulumiddin, Jilid 1, Bab Adab Tilawatil Qur'an).
Etika pertama dan sangat penting sebelum membaca Al-Qur'an adalah bersuci atau berwudu. Wudu artinya membasuh anggota tubuh tertentu dengan air untuk menghilangkan hadas kecil. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur'an Surah Al-Waqi'ah ayat 79 yang artinya: "Tidak ada yang menyentuhnya kecuali orang-orang yang disucikan."
Ayat ini menunjukkan bahwa Al-Qur'an harus dipegang dan dibaca dalam keadaan suci. Sama seperti ketika kamu mau makan, kamu harus mencuci tangan dulu agar bersih. Begitu juga sebelum membaca Al-Qur'an, kita harus berwudu terlebih dahulu agar tubuh kita bersih dan suci. Jika kamu sedang dalam perjalanan dan tidak bisa berwudu, kamu boleh bertayamum sebagai pengganti wudu.
Selain tubuh yang bersih, tempat yang kita gunakan untuk membaca Al-Qur'an juga harus bersih. Jangan membaca Al-Qur'an di tempat yang kotor seperti kamar mandi atau tempat pembuangan sampah. Pilihlah tempat yang bersih, nyaman, dan tenang agar kita bisa membaca dengan khusyuk.
Sebelum mulai membaca Al-Qur'an, kita dianjurkan untuk membaca taawuz, yaitu bacaan "A'udzubillahi minasy syaithanir rajim" yang artinya "Aku berlindung kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk." Setelah itu, dilanjutkan dengan membaca basmalah, yaitu "Bismillahirrahmanirrahim" yang artinya "Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang."
Allah SWT berfirman dalam Surah An-Nahl ayat 98 yang artinya: "Apabila kamu membaca Al-Qur'an, hendaklah kamu meminta perlindungan kepada Allah dari setan yang terkutuk."
Membaca taawuz itu seperti memasang perisai pelindung dari gangguan setan. Ketika kita membaca Al-Qur'an, setan tidak suka dan akan berusaha mengganggu kita agar tidak konsentrasi. Dengan membaca taawuz, kita meminta perlindungan Allah agar setan menjauh dari kita. Bayangkan taawuz seperti doa meminta Allah menjaga kita saat belajar membaca firman-Nya.
Tartil artinya membaca Al-Qur'an dengan pelan-pelan, jelas, dan memperhatikan hukum-hukum tajwid. Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Muzzammil ayat 4 yang artinya: "Dan bacalah Al-Qur'an itu dengan tartil (perlahan-lahan)."
Membaca tartil itu berbeda dengan membaca cepat-cepat. Kalau membaca cepat-cepat, kita bisa salah mengucapkan huruf dan artinya bisa berubah. Misalnya, dalam bahasa Indonesia, kata "bisa" (racun ular) dan "bisa" (mampu) pengucapannya sama tapi artinya berbeda. Dalam bahasa Arab, perbedaan pengucapan huruf bisa mengubah arti secara total. Oleh karena itu, kita harus membaca dengan pelan dan hati-hati.
Tajwid adalah ilmu tentang cara membaca Al-Qur'an yang benar. Dalam tajwid, kita belajar tentang cara mengucapkan huruf-huruf hijaiyah yang tepat, kapan harus memanjangkan bacaan, kapan harus berdengung, dan kapan harus berhenti. Belajar tajwid itu seperti belajar rambu-rambu lalu lintas: kalau kita mengikutinya, kita akan selamat dan bacaan kita menjadi indah.
Saat membaca Al-Qur'an, kita sebaiknya berpakaian rapi, bersih, dan sopan, seperti saat kita hendak salat. Meskipun membaca Al-Qur'an boleh dilakukan kapan saja, namun berpakaian rapi menunjukkan rasa hormat kita terhadap firman Allah SWT. Sama halnya ketika kamu menghadiri upacara bendera di sekolah, kamu pasti memakai seragam yang rapi dan bersih sebagai tanda penghormatan.
Untuk laki-laki, sebaiknya memakai baju yang menutup aurat dan memakai peci atau kopiah. Untuk perempuan, sebaiknya memakai kerudung atau jilbab yang menutupi rambut dan berpakaian sopan yang menutup aurat. Berpakaian rapi juga membantu kita untuk lebih fokus dan merasa khusyuk saat membaca Al-Qur'an.
Saat membaca Al-Qur'an, kita dianjurkan untuk menghadap kiblat, yaitu menghadap ke arah Ka'bah di Makkah. Meskipun ini bukan kewajiban, namun menghadap kiblat adalah adab yang sangat dianjurkan karena menunjukkan rasa hormat dan kesungguhan kita saat membaca firman Allah. Ini seperti ketika kamu berbicara dengan guru, kamu pasti menghadap ke arah guru tersebut sebagai tanda sopan santun.
Selain menghadap kiblat, posisi duduk kita juga sebaiknya sopan. Jangan membaca Al-Qur'an sambil tiduran atau sambil membelakangi mushaf (Al-Qur'an). Duduklah dengan tenang dan rapi, bisa bersila, duduk di kursi, atau duduk bersimpuh.
Ketika ada orang lain yang sedang membaca Al-Qur'an, kita wajib mendengarkannya dengan penuh perhatian dan tidak boleh berisik atau ramai sendiri. Allah SWT berfirman dalam Surah Al-A'raf ayat 204 yang artinya: "Dan apabila dibacakan Al-Qur'an, maka dengarkanlah baik-baik dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat."
Bayangkan kalau kamu sedang berbicara di depan kelas, lalu teman-temanmu malah ramai sendiri dan tidak mendengarkan. Tentu kamu akan merasa sedih dan tidak dihargai. Begitu juga ketika Al-Qur'an dibacakan, kita harus mendengarkan dengan baik karena itu adalah firman Allah yang sangat mulia.
Membaca Al-Qur'an tidak hanya sekadar melafalkan huruf-hurufnya saja, tetapi kita juga harus berusaha memahami dan merenungkan makna ayat-ayat yang kita baca. Inilah yang disebut tadabbur. Allah SWT berfirman dalam Surah Sad ayat 29 yang artinya: "Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka merenungkan ayat-ayatnya."
Merenungkan makna Al-Qur'an itu seperti membaca buku cerita favorit. Ketika membaca cerita, kamu tidak hanya melihat huruf-hurufnya, tapi juga membayangkan apa yang terjadi dalam cerita itu. Begitu juga saat membaca Al-Qur'an, kita harus berusaha memahami apa yang Allah sampaikan kepada kita. Untuk anak SD, kalian bisa membaca terjemahan Al-Qur'an atau bertanya kepada guru dan orang tua tentang arti ayat yang kalian baca.
Al-Qur'an harus diletakkan di tempat yang tinggi dan mulia, tidak boleh diletakkan di lantai, di dekat kaki, atau di tempat yang kotor. Saat membaca, sebaiknya gunakan rehal (meja kecil khusus untuk menyangga Al-Qur'an) atau pangku agar Al-Qur'an tidak diletakkan sembarangan. Setelah selesai membaca, kembalikan Al-Qur'an ke tempatnya dengan rapi.
Jangan pernah meletakkan benda-benda lain di atas Al-Qur'an, seperti buku pelajaran, tas, atau makanan. Al-Qur'an harus selalu berada di posisi paling atas. Ini sama seperti ketika kamu menyimpan piala atau sertifikat penghargaan di tempat yang tinggi dan terhormat di rumahmu.
Etika yang paling utama setelah membaca Al-Qur'an adalah mengamalkan isi ayat-ayat yang sudah kita baca. Artinya, apa yang diperintahkan Allah dalam Al-Qur'an harus kita lakukan, dan apa yang dilarang harus kita tinggalkan. Misalnya, kalau kita membaca ayat tentang perintah berbakti kepada orang tua, maka kita harus benar-benar patuh dan berbakti kepada orang tua kita.
Al-Qur'an diturunkan bukan hanya untuk dibaca, tetapi juga untuk diamalkan dalam kehidupan sehari-hari. Orang yang membaca Al-Qur'an tetapi tidak mengamalkannya, seperti pohon yang berbunga indah tapi tidak berbuah. Rasulullah SAW bersabda yang artinya: "Sebaik-baik kalian adalah yang mempelajari Al-Qur'an dan mengajarkannya." (HR. Bukhari). Jadi, setelah belajar dan membaca Al-Qur'an, kita juga harus mengajarkan apa yang kita tahu kepada orang lain.
Membaca Al-Qur'an memiliki banyak keutamaan dan pahala yang sangat besar. Di antaranya:
Pertama, setiap huruf yang dibaca mendapat pahala, dan setiap pahala dilipatgandakan sepuluh kali. Rasulullah SAW bersabda: "Barangsiapa membaca satu huruf dari Al-Qur'an, maka baginya satu kebaikan, dan satu kebaikan itu dilipatgandakan menjadi sepuluh kebaikan." (HR. Tirmidzi). Bayangkan, kalau kamu membaca "Bismillahirrahmanirrahim" saja, sudah ada 19 huruf, berarti kamu mendapat 190 kebaikan!
Kedua, Al-Qur'an akan menjadi penolong (syafaat) di hari kiamat bagi orang yang rajin membacanya. Ketiga, orang yang membaca Al-Qur'an hatinya akan menjadi tenang dan damai. Keempat, orang yang pandai membaca Al-Qur'an akan bersama malaikat yang mulia di surga kelak.
Etika membaca Al-Qur'an (adab tilawah) adalah hal yang sangat penting untuk kita pelajari dan amalkan. Dengan menjaga adab saat membaca Al-Qur'an, insya Allah bacaan kita akan lebih bermakna, lebih khusyuk, dan mendapat pahala yang lebih besar dari Allah SWT. Ingatlah selalu untuk berwudu sebelum membaca, membaca taawuz dan basmalah, membaca dengan tartil, berpakaian sopan, menghadap kiblat, merenungkan makna ayat, meletakkan Al-Qur'an di tempat mulia, dan yang paling penting adalah mengamalkan isi Al-Qur'an dalam kehidupan sehari-hari. Semoga kita semua menjadi anak-anak yang mencintai Al-Qur'an dan selalu membacanya dengan adab yang baik. Aamiin.
1. Imam An-Nawawi, At-Tibyan fi Adabi Hamalatil Qur'an — membahas adab-adab lahir dan batin dalam membaca Al-Qur'an.
2. Imam Al-Ghazali, Ihya Ulumiddin, Jilid 1, Bab Adab Tilawatil Qur'an — membahas etika membaca Al-Qur'an secara komprehensif.
Kuis Interaktif
Kuis terdiri dari 25 soal pilihan ganda yang diacak dari bank soal.
Bacalah materi di atas terlebih dahulu sebelum mengerjakan kuis.