Portal sekolah
Asesmen Diagnostik di SD - Portal Tanosa
📚 Materi Pembelajaran Kurikulum Merdeka

Asesmen Diagnostik di SD:
Cara Efektif Mengukur Kesiapan Belajar Siswa

Memahami kondisi awal siswa untuk menciptakan pembelajaran yang bermakna dan menyenangkan

📖 Waktu baca: 15 menit
🎯 Untuk Guru SD
Kurikulum Merdeka
🌟

Pendahuluan

Dalam dunia pendidikan modern, khususnya dengan diterapkannya Kurikulum Merdeka, pemahaman tentang kondisi awal siswa menjadi sangat penting. Setiap anak yang datang ke sekolah membawa latar belakang, pengalaman, dan kemampuan yang berbeda-beda. Ada yang sudah lancar membaca, ada yang masih dalam proses belajar. Ada yang cepat memahami matematika, ada yang butuh waktu lebih lama. Inilah mengapa seorang guru perlu mengetahui "di mana" sebenarnya posisi setiap siswanya sebelum memulai pembelajaran.

Bayangkan kamu adalah seorang dokter. Sebelum memberikan obat kepada pasien, tentu kamu harus memeriksa dulu apa penyakitnya, bukan? Nah, asesmen diagnostik dalam pendidikan mirip seperti pemeriksaan dokter tersebut. Guru melakukan "pemeriksaan" untuk mengetahui kondisi belajar siswa sebelum memberikan "obat" berupa materi pembelajaran yang tepat.

💡 Tahukah Kamu?
Menurut Kemendikbudristek (2022), asesmen diagnostik merupakan langkah awal yang wajib dilakukan guru sebelum memulai pembelajaran di setiap awal tahun ajaran atau semester baru. Hal ini bertujuan agar pembelajaran dapat disesuaikan dengan kebutuhan nyata peserta didik.

1

Pengertian Asesmen Diagnostik

Asesmen diagnostik adalah proses pengumpulan informasi tentang kekuatan, kelemahan, pengetahuan, dan keterampilan siswa sebelum pembelajaran dimulai. Tujuannya adalah untuk mengidentifikasi kebutuhan belajar peserta didik sehingga guru dapat merancang pembelajaran yang sesuai dengan kondisi mereka.

Menurut Popham (2011), seorang ahli pendidikan dari Amerika Serikat, asesmen diagnostik adalah "penilaian yang digunakan untuk menentukan tingkat pemahaman atau keterampilan siswa sebelum instruksi dimulai." Dengan kata lain, ini adalah cara guru untuk "membaca" kondisi siswanya.

Black dan Wiliam (1998), dua peneliti pendidikan yang sangat berpengaruh, menyatakan bahwa asesmen yang dilakukan di awal pembelajaran dapat meningkatkan kualitas pembelajaran secara signifikan karena guru dapat menyesuaikan pengajarannya dengan kebutuhan aktual siswa.

📌 Contoh Sederhana:

Bu Ani akan mengajar perkalian di kelas 3 SD. Sebelum mengajar, beliau memberikan soal sederhana tentang penjumlahan berulang. Dari hasil tersebut, Bu Ani mengetahui bahwa 5 siswa masih kesulitan penjumlahan, 15 siswa sudah paham penjumlahan tapi belum kenal perkalian, dan 10 siswa sudah mengerti dasar perkalian. Dengan informasi ini, Bu Ani bisa membagi kelompok dan memberikan materi yang sesuai untuk masing-masing kelompok.

2

Pentingnya Asesmen Diagnostik di SD

Mengapa asesmen diagnostik sangat penting dilakukan, terutama di tingkat Sekolah Dasar? Vygotsky (1978), seorang psikolog pendidikan terkenal dari Rusia, memperkenalkan konsep "Zone of Proximal Development" (ZPD) atau zona perkembangan terdekat. Menurutnya, pembelajaran yang efektif terjadi ketika materi yang diberikan sedikit di atas kemampuan siswa saat ini, tetapi masih bisa dicapai dengan bantuan guru atau teman.

Tanpa asesmen diagnostik, guru akan kesulitan menentukan di mana "zona" tersebut berada untuk setiap siswa. Akibatnya, materi yang diberikan bisa terlalu mudah (siswa bosan) atau terlalu sulit (siswa frustrasi).

🎯

Pembelajaran Tepat Sasaran

Guru dapat memberikan materi yang sesuai dengan kemampuan masing-masing siswa, tidak terlalu mudah dan tidak terlalu sulit.

Efisiensi Waktu

Guru tidak perlu mengulang materi yang sudah dipahami siswa atau melompat ke materi yang belum siap dipelajari.

💪

Meningkatkan Motivasi

Siswa lebih termotivasi karena mereka merasa pembelajaran relevan dengan kebutuhan mereka.

🤝

Dukungan Individual

Guru dapat memberikan perhatian khusus kepada siswa yang membutuhkan bantuan lebih.

❤️

Memahami Kondisi Non-Akademik

Mengetahui kondisi sosial-emosional siswa yang dapat mempengaruhi proses belajar mereka.

📈

Dasar Perencanaan

Hasil asesmen menjadi dasar untuk menyusun rencana pembelajaran yang diferensiasi.

3

Jenis-Jenis Asesmen Diagnostik

Dalam Kurikulum Merdeka, Kemendikbudristek membagi asesmen diagnostik menjadi dua jenis utama yang sama-sama penting dilakukan oleh guru:

📊

A. Asesmen Diagnostik Kognitif

Asesmen ini bertujuan untuk mengukur kemampuan akademik atau pengetahuan siswa. Guru mengidentifikasi sejauh mana pemahaman siswa terhadap materi prasyarat atau kompetensi dasar yang akan dipelajari.

🔍 Aspek yang Diukur:

  • Penguasaan materi prasyarat (misalnya: penjumlahan sebelum perkalian)
  • Kemampuan literasi (membaca dan memahami teks)
  • Kemampuan numerasi (berhitung dan bernalar matematis)
  • Pengetahuan awal tentang topik yang akan dipelajari

📝 Contoh: Pak Budi akan mengajar pecahan di kelas 4. Beliau memberikan tes sederhana tentang pembagian untuk mengetahui apakah siswa sudah menguasai konsep dasar pembagian yang merupakan prasyarat memahami pecahan.

💝

B. Asesmen Diagnostik Non-Kognitif

Asesmen ini bertujuan untuk menggali informasi tentang kondisi psikologis, sosial, dan emosional siswa. Menurut Gardner (1983) dengan teori kecerdasan majemuknya, setiap anak memiliki kecerdasan dan cara belajar yang berbeda-beda.

🔍 Aspek yang Diukur:

  • Kesejahteraan psikologis (perasaan senang, sedih, cemas)
  • Gaya belajar (visual, auditori, kinestetik)
  • Kondisi keluarga dan latar belakang sosial
  • Minat dan hobi siswa
  • Pergaulan dengan teman sebaya

📝 Contoh: Bu Sari melakukan wawancara singkat dengan siswa kelas 1 untuk mengetahui apakah mereka senang bersekolah, apakah ada masalah dengan teman, dan bagaimana perasaan mereka saat belajar. Informasi ini membantu Bu Sari memahami mengapa beberapa siswa tampak murung atau tidak fokus.

⚠️ Penting Diingat: Kedua jenis asesmen ini harus dilakukan secara bersamaan karena saling melengkapi. Seorang siswa mungkin memiliki kemampuan kognitif yang baik, tetapi jika kondisi emosinya terganggu, proses belajarnya juga akan terhambat.

4

Langkah-Langkah Pelaksanaan Asesmen Diagnostik

Pelaksanaan asesmen diagnostik dalam pembelajaran merupakan proses penting untuk memahami kondisi awal peserta didik sebelum kegiatan pembelajaran dimulai. Dengan melakukan asesmen ini, guru dapat mengetahui tingkat kesiapan belajar, kemampuan awal, serta berbagai faktor yang memengaruhi proses belajar siswa. Informasi yang diperoleh dari asesmen diagnostik akan membantu guru dalam merancang pembelajaran yang lebih tepat sasaran, sehingga kegiatan belajar menjadi lebih efektif, inklusif, dan mampu memenuhi kebutuhan belajar setiap siswa. Oleh karena itu, asesmen diagnostik sebaiknya dilakukan secara terencana, sistematis, serta disesuaikan dengan karakteristik peserta didik di sekolah dasar.

Dalam praktiknya, asesmen diagnostik tidak hanya berfokus pada kemampuan akademik semata, tetapi juga memperhatikan aspek non-kognitif seperti motivasi belajar, minat, kondisi emosional, serta lingkungan belajar siswa. Dengan memahami kedua aspek tersebut secara menyeluruh, guru dapat memperoleh gambaran yang lebih utuh mengenai profil belajar siswa. Berikut ini adalah langkah-langkah sistematis yang dapat dilakukan oleh guru dalam melaksanakan asesmen diagnostik di kelas.

1

Persiapan

Tahap persiapan merupakan langkah awal yang sangat penting sebelum asesmen diagnostik dilaksanakan. Pada tahap ini, guru perlu mengidentifikasi kompetensi dasar atau materi prasyarat yang seharusnya telah dimiliki oleh siswa sebelum mempelajari materi baru. Guru juga perlu menentukan tujuan dari asesmen yang akan dilakukan, misalnya untuk mengetahui pemahaman konsep dasar, keterampilan berpikir, atau kesiapan belajar siswa. Selain itu, guru perlu merancang instrumen asesmen yang sesuai dengan tingkat perkembangan siswa sekolah dasar, baik berupa soal pilihan ganda, isian singkat, tugas sederhana, maupun aktivitas berbasis permainan. Instrumen yang disusun sebaiknya jelas, mudah dipahami, serta tidak menimbulkan tekanan bagi siswa.

2

Pelaksanaan Asesmen Kognitif

Setelah instrumen disiapkan, langkah selanjutnya adalah melaksanakan asesmen kognitif untuk mengetahui kemampuan akademik siswa. Guru dapat memberikan tes singkat, kuis diagnostik, atau tugas yang berkaitan dengan konsep dasar yang akan dipelajari. Soal yang diberikan sebaiknya memiliki tingkat kesulitan yang bervariasi agar guru dapat melihat kemampuan siswa secara lebih menyeluruh. Dalam tahap ini, guru tidak hanya memperhatikan jawaban benar atau salah, tetapi juga mengamati cara siswa memahami soal, strategi yang digunakan dalam menyelesaikan masalah, serta kesulitan yang mereka alami. Informasi tersebut sangat berguna untuk mengetahui bagian mana dari materi yang perlu mendapatkan penjelasan lebih mendalam dalam proses pembelajaran berikutnya.

3

Pelaksanaan Asesmen Non-Kognitif

Selain kemampuan akademik, guru juga perlu memahami kondisi non-kognitif siswa yang dapat memengaruhi proses belajar. Asesmen non-kognitif dapat dilakukan melalui berbagai cara seperti observasi perilaku siswa di kelas, wawancara sederhana, diskusi ringan, maupun penggunaan angket sederhana yang disesuaikan dengan usia siswa. Untuk siswa kelas rendah, guru dapat menggunakan angket bergambar atau aktivitas refleksi sederhana agar siswa lebih mudah mengekspresikan perasaan dan pengalaman belajarnya. Pada tahap ini, penting bagi guru untuk menciptakan suasana yang nyaman dan tidak menghakimi sehingga siswa merasa aman untuk berbagi cerita mengenai pengalaman belajar, kesulitan yang dihadapi, serta hal-hal yang membuat mereka lebih semangat belajar.

4

Analisis Hasil

Setelah seluruh data asesmen terkumpul, guru perlu melakukan analisis terhadap hasil yang diperoleh. Analisis ini bertujuan untuk mengelompokkan siswa berdasarkan tingkat pemahaman dan kesiapan belajar mereka. Secara umum, siswa dapat dikategorikan menjadi tiga kelompok, yaitu siswa yang sudah menguasai materi prasyarat, siswa yang masih dalam tahap berkembang, serta siswa yang membutuhkan pendampingan lebih intensif. Selain itu, guru juga perlu mencermati faktor non-kognitif yang mungkin memengaruhi proses belajar siswa, seperti kurangnya motivasi, rasa percaya diri yang rendah, atau kondisi lingkungan belajar yang kurang mendukung. Hasil analisis ini akan menjadi dasar dalam menentukan strategi pembelajaran yang tepat bagi seluruh siswa di kelas.

5

Perencanaan Tindak Lanjut

Langkah terakhir adalah merancang tindak lanjut berdasarkan hasil analisis asesmen diagnostik. Guru dapat menyusun strategi pembelajaran diferensiasi yang menyesuaikan kebutuhan belajar masing-masing kelompok siswa. Misalnya, siswa yang sudah menguasai materi dapat diberikan tugas pengayaan atau proyek yang menantang, sementara siswa yang masih mengalami kesulitan dapat memperoleh bimbingan tambahan, latihan bertahap, atau penjelasan ulang dengan pendekatan yang lebih sederhana. Selain itu, guru juga dapat merancang kegiatan belajar yang lebih bervariasi, seperti diskusi kelompok, permainan edukatif, atau pembelajaran berbasis proyek agar seluruh siswa dapat belajar secara aktif dan menyenangkan. Dengan perencanaan tindak lanjut yang tepat, asesmen diagnostik tidak hanya menjadi alat pengukur kemampuan awal, tetapi juga menjadi dasar untuk menciptakan pembelajaran yang lebih efektif, adil, dan bermakna bagi semua siswa.

5

Instrumen dan Contoh Praktis Asesmen Diagnostik

Pemilihan instrumen yang tepat sangat menentukan keberhasilan asesmen diagnostik. Stiggins (2005), seorang ahli penilaian pendidikan, menekankan bahwa instrumen harus sesuai dengan tujuan asesmen dan karakteristik siswa yang dinilai. Berikut adalah beberapa instrumen yang dapat digunakan:

📝 Instrumen Asesmen Kognitif

1. Tes Tertulis Singkat

Berikan 5-10 soal yang mengukur pemahaman materi prasyarat. Gunakan soal pilihan ganda dan isian singkat.

Contoh (Matematika Kelas 3):
"Ibu membeli 3 kantong apel. Setiap kantong berisi 4 apel. Berapa jumlah semua apel Ibu?"

2. Tugas Praktik

Minta siswa mendemonstrasikan keterampilan tertentu secara langsung.

Contoh (Bahasa Indonesia Kelas 1):
"Bacakan kalimat sederhana ini dengan suara lantang: 'Ani makan nasi goreng.'"

3. Peta Konsep

Minta siswa menghubungkan konsep-konsep yang mereka ketahui tentang topik tertentu.

Contoh (IPA Kelas 5):
"Gambarlah apa saja yang kamu ketahui tentang 'Air' dan hubungkan dengan garis."

💬 Instrumen Asesmen Non-Kognitif

1. Kuesioner Bergambar (Kelas Rendah)

Gunakan gambar ekspresi wajah (senang, biasa, sedih) untuk siswa memilih perasaannya.

Contoh Pertanyaan:
"Bagaimana perasaanmu saat belajar di kelas?" 😊 😐 😢

2. Wawancara Sederhana

Ajak siswa berbicara santai tentang kehidupan sehari-harinya.

Contoh Pertanyaan:
"Siapa yang biasanya menemani kamu belajar di rumah?"
"Apa kegiatan yang paling kamu sukai?"

3. Observasi

Amati perilaku siswa selama pembelajaran dan interaksi dengan teman.

Yang Diamati:
Partisipasi dalam diskusi, interaksi dengan teman, respons terhadap instruksi, ekspresi saat mengerjakan tugas.

4. Jurnal atau Buku Harian

Minta siswa menulis atau menggambar tentang perasaan dan pengalamannya.

Contoh Tugas:
"Gambarlah kegiatan yang paling kamu sukai di rumah dan ceritakan mengapa kamu menyukainya."
6

Tindak Lanjut Hasil Asesmen Diagnostik

Hasil asesmen diagnostik hanya akan memberikan manfaat yang nyata apabila diikuti dengan tindak lanjut yang tepat dalam proses pembelajaran. Asesmen ini bukan sekadar kegiatan mengumpulkan data mengenai kemampuan awal siswa, tetapi menjadi dasar penting bagi guru untuk merancang strategi pembelajaran yang lebih efektif dan responsif terhadap kebutuhan belajar peserta didik. Dengan memahami kondisi awal siswa secara menyeluruh, guru dapat menentukan pendekatan yang tepat agar setiap siswa mendapatkan kesempatan belajar yang optimal sesuai dengan kemampuan dan tahap perkembangannya.

Carol Ann Tomlinson (2001), seorang pakar pendidikan dari University of Virginia yang dikenal melalui konsep pembelajaran diferensiasi, menyatakan bahwa pembelajaran yang efektif adalah pembelajaran yang mampu merespons keragaman siswa di dalam kelas. Setiap siswa memiliki latar belakang, pengalaman belajar, gaya belajar, serta tingkat pemahaman yang berbeda-beda. Oleh karena itu, hasil asesmen diagnostik perlu dianalisis dengan baik agar guru dapat menyesuaikan metode, materi, serta strategi pembelajaran sehingga proses belajar dapat berlangsung secara lebih inklusif dan bermakna.

Berdasarkan hasil analisis asesmen diagnostik, guru umumnya dapat mengelompokkan siswa ke dalam beberapa kategori tingkat pemahaman. Pengelompokan ini bukan bertujuan untuk memberi label kepada siswa, melainkan untuk membantu guru merancang pendekatan pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan belajar masing-masing kelompok. Dengan strategi yang tepat, seluruh siswa memiliki peluang yang sama untuk berkembang dan mencapai tujuan pembelajaran.

🔴

Kelompok Perlu Bimbingan Intensif

Kelompok ini terdiri dari siswa yang masih mengalami kesulitan dalam memahami konsep dasar atau belum menguasai materi prasyarat yang diperlukan untuk mempelajari materi selanjutnya. Siswa dalam kelompok ini memerlukan perhatian dan pendampingan yang lebih intensif dari guru. Guru dapat memberikan pengulangan materi dengan pendekatan yang lebih sederhana, menggunakan media pembelajaran konkret, serta memberikan latihan bertahap yang membantu siswa memahami konsep secara perlahan. Selain itu, pembelajaran dalam kelompok kecil atau bimbingan individual juga dapat menjadi strategi yang efektif agar siswa merasa lebih nyaman dalam belajar dan tidak merasa tertinggal dari teman-temannya.

🟡

Kelompok Sedang Berkembang

Siswa dalam kelompok ini telah memahami sebagian konsep dasar, namun masih memerlukan penguatan agar pemahaman mereka menjadi lebih stabil dan mendalam. Dalam situasi ini, guru dapat melaksanakan pembelajaran reguler dengan memberikan bantuan atau dukungan tambahan yang bersifat bertahap. Strategi seperti scaffolding, diskusi kelompok, maupun latihan terarah dapat membantu siswa memperkuat pemahaman mereka. Guru juga dapat memberikan contoh-contoh yang lebih variatif serta kesempatan bagi siswa untuk bertanya dan berdiskusi agar mereka semakin percaya diri dalam memahami materi yang dipelajari.

🟢

Kelompok Sudah Menguasai

Kelompok ini terdiri dari siswa yang telah menunjukkan penguasaan yang baik terhadap materi prasyarat maupun konsep dasar yang akan dipelajari. Agar potensi mereka tetap berkembang secara optimal, guru dapat memberikan kegiatan pengayaan atau enrichment. Bentuk pengayaan dapat berupa tugas yang lebih menantang, proyek sederhana, kegiatan eksplorasi materi secara lebih mendalam, atau peran sebagai tutor sebaya yang membantu teman-temannya memahami materi. Strategi ini tidak hanya membantu siswa memperdalam pengetahuan mereka, tetapi juga melatih keterampilan komunikasi, kepemimpinan, serta rasa tanggung jawab dalam proses belajar bersama.

💡 Tindak Lanjut Non-Kognitif:

Selain memperhatikan aspek akademik, guru juga perlu menindaklanjuti hasil asesmen yang berkaitan dengan kondisi sosial dan emosional siswa. Beberapa siswa mungkin menunjukkan tanda-tanda kurang percaya diri, motivasi belajar yang rendah, atau mengalami kesulitan dalam berinteraksi dengan teman sebaya. Dalam situasi seperti ini, guru dapat melakukan pendekatan personal melalui percakapan ringan, memberikan dukungan emosional, serta menciptakan suasana kelas yang lebih inklusif dan menghargai perbedaan. Apabila diperlukan, guru juga dapat berkomunikasi dengan orang tua siswa atau berkoordinasi dengan guru bimbingan konseling serta pihak sekolah lainnya untuk memberikan dukungan yang lebih komprehensif. Lingkungan belajar yang aman, nyaman, dan suportif akan membantu siswa berkembang tidak hanya secara akademik, tetapi juga secara sosial dan emosional.

"Setiap anak adalah unik. Tugas pendidik adalah menemukan kunci untuk membuka potensi masing-masing anak, bukan memaksa semua anak masuk ke dalam satu cetakan yang sama."

— Howard Gardner, Pencetus Teori Kecerdasan Majemuk

7

Kesimpulan dan Poin Penting

Asesmen diagnostik merupakan langkah awal yang sangat penting dalam proses pembelajaran, terutama dalam implementasi Kurikulum Merdeka di Sekolah Dasar. Melalui asesmen ini, guru dapat memahami kondisi awal siswa sebelum pembelajaran dimulai. Informasi yang diperoleh dari asesmen diagnostik membantu guru mengenali tingkat pemahaman, kesiapan belajar, gaya belajar, serta kondisi emosional siswa. Dengan demikian, guru tidak lagi mengajar berdasarkan asumsi, tetapi berdasarkan data nyata yang menggambarkan kebutuhan belajar peserta didik.

Ketika guru mengetahui kemampuan awal siswa, proses pembelajaran dapat dirancang secara lebih efektif dan terarah. Siswa yang sudah memahami materi dasar dapat diberikan tantangan yang lebih tinggi, sementara siswa yang masih mengalami kesulitan dapat memperoleh pendampingan atau penguatan konsep. Pendekatan ini membuat pembelajaran menjadi lebih adil, inklusif, dan memberi kesempatan bagi setiap siswa untuk berkembang sesuai dengan potensinya masing-masing.

Selain itu, asesmen diagnostik juga membantu guru menciptakan lingkungan belajar yang lebih positif dan mendukung perkembangan siswa secara menyeluruh. Tidak hanya aspek akademik yang diperhatikan, tetapi juga kondisi sosial dan emosional siswa. Dengan memahami perasaan, motivasi, serta tantangan yang dihadapi siswa, guru dapat membangun hubungan yang lebih baik dengan peserta didik sehingga proses pembelajaran menjadi lebih bermakna dan menyenangkan.

Poin-Poin Penting yang Harus Diingat:

Asesmen diagnostik adalah "pemeriksaan awal" yang dilakukan guru untuk mengetahui kesiapan belajar siswa sebelum pembelajaran dimulai sehingga pembelajaran dapat dirancang dengan lebih tepat sasaran.

Terdapat dua jenis asesmen diagnostik: kognitif yang mengukur kemampuan pengetahuan dan keterampilan akademik, serta non-kognitif yang membantu memahami kondisi sosial, emosional, dan motivasi belajar siswa.

Kedua jenis asesmen tersebut perlu dilakukan secara seimbang karena kemampuan akademik siswa sering kali dipengaruhi oleh kondisi emosional dan lingkungan belajar mereka.

Hasil asesmen diagnostik harus ditindaklanjuti dengan strategi pembelajaran yang tepat, seperti pembelajaran diferensiasi, penguatan konsep, ataupun pemberian tantangan belajar yang lebih tinggi bagi siswa yang siap.

Instrumen asesmen harus sesuai dengan karakteristik siswa SD, misalnya menggunakan bahasa sederhana, contoh konkret, ilustrasi gambar, atau aktivitas yang dekat dengan kehidupan sehari-hari siswa.

Tujuan utama asesmen diagnostik adalah menciptakan pembelajaran yang bermakna di mana setiap siswa merasa dihargai, didukung, dan diberikan kesempatan untuk berkembang sesuai dengan potensi yang dimiliki.

Asesmen diagnostik selaras dengan prinsip Kurikulum Merdeka yang menempatkan siswa sebagai pusat pembelajaran serta mendorong guru untuk menerapkan strategi pembelajaran yang adaptif dan responsif terhadap kebutuhan siswa.

Dengan memanfaatkan asesmen diagnostik secara tepat, guru dapat merancang pembelajaran yang lebih efektif, menyenangkan, dan berdampak nyata bagi perkembangan siswa. Pembelajaran tidak lagi sekadar menyampaikan materi, tetapi menjadi proses pendampingan yang membantu setiap siswa mencapai potensi terbaiknya.

🌱

"Teruslah belajar dan berkembang, karena setiap anak memiliki potensi luar biasa yang menunggu untuk dibangkitkan!"

Jadilah guru yang memahami siswanya, karena pemahaman adalah kunci membuka pintu pembelajaran yang bermakna.

📚

Referensi

  • • Black, P., & Wiliam, D. (1998). Assessment and Classroom Learning. Assessment in Education: Principles, Policy & Practice.
  • • Gardner, H. (1983). Frames of Mind: The Theory of Multiple Intelligences. New York: Basic Books.
  • • Kemendikbudristek. (2022). Panduan Pembelajaran dan Asesmen Kurikulum Merdeka. Jakarta.
  • • Popham, W. J. (2011). Classroom Assessment: What Teachers Need to Know. Boston: Pearson.
  • • Stiggins, R. J. (2005). Student-Involved Assessment for Learning. Upper Saddle River, NJ: Pearson.
  • • Tomlinson, C. A. (2001). How to Differentiate Instruction in Mixed-Ability Classrooms. Alexandria, VA: ASCD.
  • • Vygotsky, L. S. (1978). Mind in Society: The Development of Higher Psychological Processes. Cambridge, MA: Harvard University Press.
📖
Portal Tanosa

Portal Pembelajaran untuk Pendidikan Berkualitas

Materi ini disusun untuk mendukung implementasi Kurikulum Merdeka di Indonesia