Kisah Hijrah Nabi Muhammad SAW ke Madinah
Mari belajar tentang perjalanan penting Nabi Muhammad SAW dari Mekah ke Madinah
Materi Pembelajaran
Baca dengan teliti sebelum mengerjakan kuis
1 Pengertian Hijrah
Kata "hijrah" berasal dari bahasa Arab yang artinya berpindah. Dalam sejarah Islam, hijrah adalah perpindahan Nabi Muhammad SAW bersama para sahabat dari kota Mekah ke kota Madinah. Hijrah bukan berarti melarikan diri atau lari dari masalah. Hijrah adalah langkah berani untuk mencari tempat yang lebih baik agar bisa beribadah kepada Allah SWT dengan tenang dan aman.
Bayangkan jika kamu tinggal di tempat yang tidak nyaman dan selalu diganggu orang lain. Tentu kamu ingin mencari tempat yang lebih baik, bukan? Itulah yang dilakukan Nabi Muhammad SAW. Beliau dan para sahabat berpindah ke Madinah karena di Mekah mereka selalu dizalimi oleh kaum kafir Quraisy.
Peristiwa hijrah ini sangat penting dalam sejarah Islam. Bahkan, tahun terjadinya hijrah dijadikan sebagai awal tahun dalam kalender Hijriah yang kita gunakan sampai sekarang. Kalender Hijriah dimulai dari tahun 1 Hijriah, yaitu tahun ketika Nabi Muhammad SAW tiba di Madinah.
2 Latar Belakang Hijrah
Sebelum hijrah, Nabi Muhammad SAW sudah berdakwah di Mekah selama kurang lebih 13 tahun. Selama itu, beliau dan para pengikutnya mengalami banyak sekali kesulitan dan penderitaan. Kaum kafir Quraisy sangat membenci ajaran Islam karena ajaran itu mengajarkan bahwa semua manusia sama di hadapan Allah SWT.
Para pemuka Quraisy tidak suka karena mereka merasa lebih tinggi dari orang lain. Mereka juga tidak mau meninggalkan berhala-berhala yang sudah mereka sembah sejak lama. Oleh karena itu, mereka berusaha keras menghentikan dakwah Nabi Muhammad SAW dengan berbagai cara.
Kaum kafir Quraisy melakukan banyak kekejaman kepada umat Islam. Mereka memukul, menyiksa, bahkan membunuh beberapa orang yang masuk Islam. Bilal bin Rabah, seorang budak yang masuk Islam, disiksa dengan cara dijemur di bawah terik matahari dengan batu besar ditaruh di dadanya. Keluarga Yasir juga disiksa dengan kejam. Yasir dan istrinya Sumayyah menjadi syahid pertama dalam Islam.
Nabi Muhammad SAW sendiri juga sering disakiti. Beliau pernah dilempari kotoran saat sedang shalat. Abu Jahal dan Abu Lahab adalah dua orang yang paling sering mengganggu Nabi. Abu Lahab bahkan adalah paman Nabi sendiri, tetapi dia sangat membenci Islam.
3 Tahun Duka Cita
Pada tahun ke-10 kenabian, Nabi Muhammad SAW mengalami kesedihan yang sangat mendalam. Tahun itu disebut "Amul Huzni" atau Tahun Duka Cita. Pada tahun itu, dua orang yang sangat dicintai Nabi wafat. Mereka adalah paman beliau, Abu Thalib, dan istri tercinta beliau, Khadijah binti Khuwailid.
Abu Thalib adalah paman yang selalu melindungi Nabi sejak kecil. Meskipun Abu Thalib tidak masuk Islam, beliau selalu membela Nabi dari gangguan kaum Quraisy. Setelah Abu Thalib wafat, gangguan kepada Nabi semakin parah karena tidak ada lagi yang melindungi beliau.
Khadijah adalah istri pertama Nabi yang sangat setia. Khadijah selalu mendukung dan menenangkan Nabi ketika beliau sedih atau lelah. Khadijah juga adalah orang pertama yang percaya kepada kenabian Muhammad SAW. Setelah Khadijah wafat, Nabi kehilangan tempat berbagi dan mendapat dukungan.
4 Baiat Aqabah
Sebelum hijrah, ada peristiwa penting yang disebut Baiat Aqabah. Baiat artinya janji setia. Peristiwa ini terjadi di sebuah tempat bernama Aqabah, di dekat Mekah. Ada dua kali Baiat Aqabah yang sangat penting.
Baiat Aqabah pertama terjadi pada tahun ke-12 kenabian. Pada saat itu, 12 orang dari kota Yatsrib (nama lama Madinah) datang menemui Nabi Muhammad SAW. Mereka berjanji untuk tidak menyembah berhala, tidak mencuri, tidak berzina, tidak membunuh anak-anak, dan tidak berbuat fitnah. Mereka juga berjanji untuk patuh kepada Nabi dalam kebaikan.
Baiat Aqabah kedua terjadi pada tahun ke-13 kenabian. Kali ini, lebih banyak orang yang datang, yaitu 73 orang laki-laki dan 2 orang perempuan dari Yatsrib. Mereka berjanji untuk melindungi Nabi Muhammad SAW seperti mereka melindungi keluarga mereka sendiri. Mereka juga mengundang Nabi untuk hijrah ke kota mereka.
Setelah Baiat Aqabah kedua, Nabi Muhammad SAW memerintahkan para sahabat untuk mulai hijrah ke Madinah secara bertahap. Para sahabat hijrah secara diam-diam agar tidak diketahui oleh kaum Quraisy.
5 Rencana Jahat Kaum Quraisy
Ketika kaum Quraisy mengetahui bahwa banyak umat Islam sudah hijrah ke Madinah, mereka sangat marah dan khawatir. Mereka takut Islam akan semakin kuat di Madinah. Oleh karena itu, para pemuka Quraisy berkumpul di sebuah tempat bernama Darun Nadwah untuk membuat rencana jahat.
Di pertemuan itu, mereka membahas bagaimana cara menghentikan Nabi Muhammad SAW. Ada yang mengusulkan untuk mengusir Nabi, ada yang mengusulkan untuk memenjarakannya. Akhirnya, mereka sepakat dengan usul Abu Jahal, yaitu membunuh Nabi Muhammad SAW.
Rencana mereka adalah mengutus pemuda-pemuda pemberani dari setiap kabilah (suku) untuk bersama-sama membunuh Nabi. Dengan cara ini, keluarga Nabi tidak bisa menuntut balas karena semua kabilah terlibat. Mereka berencana menyerang rumah Nabi pada malam hari.
6 Malam Hijrah yang Bersejarah
Allah SWT memberitahu Nabi Muhammad SAW tentang rencana jahat kaum Quraisy melalui wahyu. Allah SWT mengizinkan Nabi untuk hijrah ke Madinah. Nabi kemudian menyusun rencana untuk hijrah dengan sangat hati-hati.
Pada malam yang telah ditentukan, Nabi Muhammad SAW meminta Ali bin Abi Thalib untuk tidur di tempat tidur beliau. Ali dengan berani menerima tugas ini meskipun nyawanya terancam. Ali mengenakan selimut hijau milik Nabi agar musuh mengira bahwa Nabi masih tidur di rumah.
Sementara para pemuda Quraisy mengepung rumah Nabi, Allah SWT membuat mereka mengantuk. Nabi Muhammad SAW keluar dari rumah sambil membaca ayat dari Surah Yasin. Ajaibnya, para pemuda itu tidak melihat Nabi keluar meskipun Nabi melewati mereka. Nabi bahkan menaburkan debu ke kepala mereka, tetapi mereka tetap tidak sadar.
Ini adalah mukjizat dari Allah SWT untuk melindungi Nabi Muhammad SAW. Allah SWT berfirman dalam Al-Quran Surah Yasin ayat 9 yang artinya: "Dan Kami jadikan di hadapan mereka dinding dan di belakang mereka dinding, lalu Kami tutup mata mereka sehingga mereka tidak dapat melihat."
7 Perjalanan ke Gua Tsur
Setelah keluar dari rumah, Nabi Muhammad SAW pergi menemui Abu Bakar Ash-Shiddiq. Abu Bakar adalah sahabat Nabi yang paling setia. Abu Bakar sudah menyiapkan dua ekor unta untuk perjalanan hijrah. Mereka berdua kemudian berangkat pada malam hari.
Untuk mengelabui musuh, Nabi dan Abu Bakar tidak langsung menuju ke utara (arah Madinah). Mereka justru pergi ke selatan, menuju Gua Tsur. Gua Tsur terletak di sebuah gunung sekitar 5 kilometer dari Mekah. Mereka bersembunyi di gua ini selama tiga hari tiga malam.
Selama di Gua Tsur, keluarga Abu Bakar membantu mereka. Abdullah, putra Abu Bakar, datang setiap malam membawa berita tentang keadaan di Mekah. Asma, putri Abu Bakar, membawa makanan untuk mereka. Amir bin Fuhairah, gembala kambing Abu Bakar, menggembalakan kambingnya di dekat gua untuk menghapus jejak kaki mereka.
8 Peristiwa di Gua Tsur
Kaum Quraisy sangat marah ketika mengetahui Nabi sudah pergi. Mereka mengerahkan banyak orang untuk mencari Nabi ke segala arah. Mereka bahkan menetapkan hadiah besar bagi siapa saja yang bisa menangkap Nabi Muhammad SAW, yaitu 100 ekor unta.
Para pencari sampai ke Gua Tsur. Abu Bakar sangat khawatir dan cemas. Beliau berbisik kepada Nabi, "Ya Rasulullah, seandainya salah seorang dari mereka melihat ke bawah kakinya, niscaya dia akan melihat kita." Nabi Muhammad SAW dengan tenang menjawab, "Wahai Abu Bakar, apa pendapatmu tentang dua orang yang Allah adalah pihak ketiga di antara keduanya? Jangan bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita."
Allah SWT melindungi Nabi dan Abu Bakar dengan cara yang ajaib. Allah memerintahkan seekor laba-laba untuk membuat sarang di mulut gua. Allah juga memerintahkan sepasang burung merpati untuk membuat sarang dan bertelur di dekat mulut gua. Ketika para pencari sampai di gua, mereka melihat sarang laba-laba dan sarang burung. Mereka mengira gua itu sudah lama tidak dimasuki orang, sehingga mereka pergi tanpa memeriksa ke dalam gua.
9 Perjalanan Menuju Madinah
Setelah tiga hari di Gua Tsur, keadaan mulai aman. Nabi Muhammad SAW dan Abu Bakar melanjutkan perjalanan menuju Madinah. Mereka ditemani oleh seorang pemandu bernama Abdullah bin Uraiqit. Meskipun Abdullah belum masuk Islam, dia adalah orang yang sangat mengenal jalan-jalan di padang pasir.
Mereka tidak melewati jalan utama yang biasa dilalui kafilah dagang. Mereka memilih jalan yang memutar dan sepi agar tidak bertemu dengan orang-orang Quraisy yang masih mencari mereka. Perjalanan mereka memakan waktu sekitar satu minggu.
Dalam perjalanan, ada kisah menarik tentang Suraqah bin Malik. Suraqah adalah seorang pemburu hadiah yang ingin menangkap Nabi untuk mendapatkan 100 ekor unta. Suraqah berhasil menemukan rombongan Nabi dan mengejar mereka dengan kudanya. Namun, setiap kali Suraqah mendekati Nabi, kaki kudanya terperosok ke dalam pasir. Hal ini terjadi berulang kali.
Akhirnya, Suraqah sadar bahwa Nabi Muhammad SAW dilindungi oleh kekuatan yang lebih tinggi. Suraqah kemudian meminta maaf kepada Nabi dan berjanji tidak akan mengejar lagi. Nabi Muhammad SAW bahkan menjanjikan bahwa suatu hari nanti Suraqah akan memakai gelang Kisra (Raja Persia). Janji ini terbukti di masa pemerintahan Khalifah Umar bin Khattab ketika Persia berhasil ditaklukkan.
10 Tiba di Madinah
Penduduk Madinah sudah sangat menantikan kedatangan Nabi Muhammad SAW. Setiap hari, mereka menunggu di pinggiran kota untuk menyambut Nabi. Ketika akhirnya Nabi tiba, seluruh penduduk Madinah bergembira dan menyambut dengan penuh suka cita.
Anak-anak, perempuan, dan laki-laki keluar dari rumah mereka. Mereka menyanyikan lagu sambutan yang sangat terkenal: "Thala'al Badru Alaina" yang artinya "Telah muncul bulan purnama kepada kami". Lagu ini sampai sekarang masih sering dinyanyikan oleh umat Islam di seluruh dunia.
Banyak orang yang ingin menjadi tuan rumah Nabi. Semua orang berharap Nabi tinggal di rumah mereka. Nabi Muhammad SAW dengan bijaksana berkata bahwa unta beliau akan berhenti di tempat yang telah ditentukan oleh Allah. Unta itu akhirnya berhenti dan duduk di sebidang tanah milik dua anak yatim. Di tempat itulah kemudian dibangun Masjid Nabawi.
11 Hikmah dan Pelajaran dari Kisah Hijrah
Dari kisah hijrah Nabi Muhammad SAW, kita bisa mengambil banyak pelajaran berharga. Pertama, kita belajar tentang kesabaran. Nabi dan para sahabat sabar menghadapi berbagai penderitaan di Mekah selama bertahun-tahun sebelum akhirnya Allah memberikan jalan keluar.
Kedua, kita belajar tentang tawakal atau berserah diri kepada Allah. Nabi Muhammad SAW selalu yakin bahwa Allah akan melindungi beliau. Bahkan ketika musuh sudah sangat dekat di Gua Tsur, Nabi tetap tenang dan yakin kepada pertolongan Allah.
Ketiga, kita belajar tentang pentingnya perencanaan yang baik. Meskipun Nabi yakin kepada pertolongan Allah, beliau tetap membuat rencana yang matang. Nabi memilih waktu yang tepat, menyiapkan kendaraan, mencari pemandu jalan, dan mengambil rute yang aman.
Keempat, kita belajar tentang keberanian dan pengorbanan. Ali bin Abi Thalib berani tidur di tempat tidur Nabi meskipun nyawanya terancam. Abu Bakar meninggalkan semua harta bendanya untuk menemani Nabi. Keluarga Abu Bakar juga membantu dengan berbagai cara.
Kelima, kita belajar tentang persahabatan yang tulus. Hubungan antara Nabi Muhammad SAW dan Abu Bakar adalah contoh persahabatan yang indah. Abu Bakar rela mengorbankan segalanya demi Nabi dan agama Islam.
12 Makna Hijrah dalam Kehidupan Sehari-hari
Hijrah tidak hanya berarti berpindah tempat. Dalam kehidupan sehari-hari, hijrah bisa bermakna berpindah dari kebiasaan buruk ke kebiasaan baik. Misalnya, jika kita sering malas belajar, kita bisa berhijrah menjadi rajin belajar. Jika kita sering berbohong, kita bisa berhijrah menjadi jujur.
Setiap pergantian tahun Hijriah, umat Islam diingatkan untuk selalu memperbaiki diri. Kita mengevaluasi diri kita sendiri: apakah kita sudah menjadi lebih baik dari tahun sebelumnya? Adakah kebiasaan buruk yang perlu kita tinggalkan?
Sebagai siswa, kita bisa menerapkan semangat hijrah dengan cara: berpindah dari malas ke rajin, dari tidak disiplin ke disiplin, dari suka mengganggu teman ke menghormati teman, dan dari suka berbohong ke selalu jujur. Itulah makna hijrah yang sesungguhnya dalam kehidupan kita sehari-hari.
✨ Semoga kita bisa meneladani semangat hijrah Nabi Muhammad SAW dalam kehidupan sehari-hari! ✨
Kuis Interaktif
Uji pemahamanmu tentang kisah Hijrah Nabi Muhammad SAW
Siap Mengerjakan Kuis?
Kuis ini terdiri dari 25 soal pilihan ganda. Baca setiap soal dengan teliti dan pilih jawaban yang paling tepat!